Semua berawal disini
Hmm...entah harus memukai kisah ini dari mana...hidupku sesungguhnya biasa-biasa saja.
Blog pribadi tempat untuk mencurahkan isi hati dan sarana untuk berekspresi segala hal .. It's for my Life in the past, now, and the future...
Hmm...entah harus memukai kisah ini dari mana...hidupku sesungguhnya biasa-biasa saja.
Seiring bersama alunan bunyi
seruling di lembah sunyi
Disana ku duduk seorang diri
mengenang di malam hari
Terkenang ku akan seorang kasihku
yang tlah pergi entah kemana
Oh angin sampaikanlah salamku
ku nanti dilembah sunyi
Seindah alunan seruling senja
begitu cintaku padanya
~ Song By Gito Rollies"
Ketika sebuah ujian dan cobaan datang menerpa diri ini, terkadang dunia serasa sempit, semua jadi kurang semangat untuk dijalani. Entah bagaimana untuk menggambarkannya apalagi ketika tiada tempat untuk berbagi. Ketika semua datang beruntun dan harus disimpan sendiri maka Semua akan terasa menumpuk dan menyesakkan dada. Beban akan terasa semakin berat. Tidak ada tempat untuk berbagi? ataukah tidak mau berbagi? ataukah justru tidak bisa berbagi??? Salah siapa menyimpan semuanya sendiri??? Tanya siapa? bukankah ada keluarga?Teman?Sahabat? bahkan ada banyak manusia di muka bumi ini sbg tempat berbagi? juga bukankah ada sarana lain untuk mengeluarkan beban di hati? ya, terlepas dari semuanya itu tetaplah akan kembali kepada pribadi masing-masing….
Ya, Allah, subhanallah, Maha Suci Engkau yang telah menciptakan manusia dengan sifat dan kemampuan yang berbeda. Ada orang yang mampu berbagi dan terbuka pada orang lain, tapi tak sedikit juga orang yang tak mampu seperti itu. Tapi semuanya adalah rahmatMu. Jika semua orang bersifat terbuka dan berbagi lalu siapa yang akan mendengarkan? Atau jika semua orang bersifat tertutup dan diam saja, maka alangkah sepinya dunia ini. Begitu indahnya dunia ini dengan segala macam keragamannya. Ada kalanya kita harus mencoba untuk berbagi masalah kepada orang lain dan membutuhkan share dari orang lain, namun adakalanya juga kita harus menjadi pendengar bagi masalah orang lain.
Ya tidak salah memang jika ketika SD, seorang anak SD akan diberikan ujian yang sesuai dengan kemampuannya sebagai anak SD, untuk menghadapi ujian pun seseorang perlu belajar terlebih dahulu, di jenjang manapun pendidikannya tentu sebelum menghadapi ujian semua siswa akan menerima pelajaran dari sang guru mengenai materi-materi yang akan diujikan. Oleh karenanya setiap siswa seharusnya mendengarkan dan mempelajari dengan seksama apa penjelasan dari sang guru agar suatu saat nanti ketika tiba masa ujian maka soal-soal yang diberikan mampu diselesaikan dengan baik. Jika lulus maka dia berhak melaju ke jenjang berikutnya. Begitu seterusnya hingga akhirnya dia mampu menyelesaikan pendidikannya hingga tingkatan yang tertinggi..
Begitu halnya juga dengan hidup ini, ketika masih anak-anak, mungkin masalah yang dihadapi hanyalah masalah spele, namun saat kita masih anak-anak tentu saja masalah itu adlh masalah yang besar. Misalnya saja Ketika ortu tidak mau mengabulkan permintaan kita, mungkin kita merasa kesal dan sebagainya, ketika harus berantem dengan teman, dsb. Ketika mneginjak remaja, masalah mulai bertambah sulit nilainya, dan semakin lama semakin sulit seiring dengan bertambahnya pelajaran yang telah diterima selama ini, semakin bertambahnya usia dan pengalaman hidup.
Ya, setiap masalah yang kita hadapi adalah sebuah ujian bagi kita. Ada banyak masalah yang pastinya kita alami dalam hidup ini. Siapapun tanpa terkecuali. Karena dunia ini merupakan tempat untuk belajar memahami tujuan dan arti hidup dengan segala permasalahannya. Sejauh mana kita mampu menyelesaikan masalah-masalah tersebut hanya kita yang tau dan Allah lah yang menilai nya. Jika kita dianggap lulus atas masalah yang satu mungkin Dia akan memberikan kita masalah yang lain yang lebih sulit tergantung kebutuhan dan pastinya sesuai dengan kemampuan kita. Allah tidak akan menguji seorang hambaNya di luar batas kemampuannya., begitulah allah menjanjikan. Jadi, pastinya allah mengetahui bahwa kita akan mampu menyelesaikannya. Allah saja yakin kita akan mampu menyelesaikannya tapi kenapa kita tidak yakin? berusahalah…berusahalah …berusahalah untuk lulus dalam ujian masalah kita masing-masing….
Untuk menyelesaikan suatu masalah mungkin kita bisa belajar dari pengalaman masa lalu, pengalaman orang lain dengan masalah yang sama, meminta share dari orang lain, namun tetaplah keputusan akhir berada di tangan pribadi masing-masing dengan pertanggungjawabannya tentu saja akan di lakukan di akhirat atas keputusan yang telah dipilih oleh diri ini.
Allah telah memberikan kita akal dan hati untuk menghadapi permasalahan hidup…oleh karenanya Hidup memang adalah pilihan-pilihan dan setiap kita berhak untuk memilih jalan yang terbaik utk setiap permasalahan hidup…. setidaknya jalan yang terbaik menurut kita dan akan mampu kita jalani…..
Setiap kita adalah player di dalam sebuah permasalahan kita, sdgkn orang lain hanyalah komentator yg hanya bs memberikan teori. Oleh karenanya seringkali komentator terlihat lebih pintar drpd playernya, namun belum tentu ketika sang komentator disuruh menjadi player di dlm permasalahan yg sama, maka apakah dia sendiri mampu menjd player yg baik dan mampu melakukan teori2nya utk menjadi spt yg selalu dia komentarkan kpd para player….?? Wallahu alam.
Yang jelas, mungkin kita patut waspada jika masalah yang kita hadapi selalu sama.dan selalu kerputar2 di situ-situ saja, Mungkinkah cara kita menyelesaikannya masih kurang tepat? sehingga Allah memberikan kepada kita “Masalah/Soal” yang sama hingga harus berulang kali? Wallahualam bi shawab…
Ya allah, masalah apapun yang aku hadapi saat ini, semoga bukan karena aku tidak lulus terhadap ujianMu pada masalah-masalah yang kemarin, tapi semoga karena engkau masih sayang pada hambamu ini yang mgkn masih kurang belajar dan masih belum mampu menemukan “Mutiara paling BerhargaMu” sehingga engkau berikan kembali soal yang mirip, serupa tapi tak sama….
Ya allah semoga aku tidak harus mengulang atas permasalahan masa lalu apapun itu yang sesungguhnya amat sangat spele untuk ukuran saat ini. Tetapi, Berikanlah aku soal yang baru, yang mampu membuat dan menempa diri ini menjadi lebih baik dan akhirnya mampu membawa aku utk naik ke tingkat selanjutnya. Ya Allah, Aku pun ingin naik kelasMu ….
Ya Allah izinkan aku menemukan dan mengambil butir-butir mutiara hikmah atas semua pelajaran yang coba Engkau berikan kepadaku Melalui orang lain, keluargaku, melalui sahabat-sahabatku, dan melalui semua makhluk ciptaanMu yang ada di bumi dan yang tampak dihadapanku. Walau Mungkin saat ini aku belum mampu menemukan semua mutiara-mutiara itu, tapi izinkan aku dan berikanlah aku waktu untuk menemukan mutiara-mutiara yang telah engkau sebar untukku. Ya allah Perkenankanlah aku untuk menemukan dan menggenggam erat satu persatu Mutiara Berharga dariMu hingga akhir hayatku.
(Teruntuk para Sahabat yang telah memberikan Sebutir-Dua butir Mutiara…….. Jazakumullah Khoiron Katsiro. Afwan jidan, jika selama ini aku masih hanya mampu berteori saja dan af1 juga jika aku hanya bisa berperan sbg komentator atas permasalahan kalian)
Label: Mutiara, Permasalahan Hidup, Ujian
Jangan Pernah Letih Untuk Belajar…..
Belajar Memahami ilmu, apapun, kapanpun, dimanapun dan dari siapapun…..
Belajar Mengerti dan Memahami Orang lain…..
Belajar Menghormati dan Menghargai Orang Lain..…..
Belajar…..Belajar…..dan Teruslah Belajar…..
Bila kegagalan tengah menghampirimu
Ketika kekalahan sedang menyelimutimu
Dan impian serasa makin jauh dari harapan
Jangan pernah patah dan menyerah, sobat !!!
Berjuang…..Berjuang…..dan Teruslah Berjuang…..
Karena hakekat hidup sesungguhnya adalah
BELAJAR & BERJUANG
Dimana proses belajar, kegagalan dan kesuksesan pasti terjadi
Pada siapapun tanpa kecuali
Iringi langkahmu dalam do’a pada Illahi
Agar di setiap proses kehidupan ini
Iman dan taqwalah yang selalu melandasi
———-Created By : Nur Fariza El-Islamassya———-
Label: Belajar, Berjuang, Kegagalan, Sukses yang tertunda
Ketika Kumohon Pada Allah Kekuatan,
Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.
Ketika Kumohon Pada Allah kebijaksanaan,
Allah memberiku masalah untuk kupecahkan.
Ketika Kumohon Pada Allah keberanian,
Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi.
Ketika Kumohon Pada Allah sebuah cinta,
Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong.
Ketika Kumohon Pada Allah bantuan,
Allah memberiku kesempatan.
Aku tak pernah mendapatkan apa yang kupinta,
Tapi aku mendapatkan apa yang kubutuhkan.
Aku memang tak selalu mendapatkan apa yang kusukai,
Namun aku mencoba untuk menyukai apapun yang aku dapatkan
Aku memang tak selalu mendapatkan apa yang kupinta kepadaNya,
Namun aku mencoba untuk mensyukuri apapun yang diberikanNya
Karena Ku yakin bahwa Dial ah yang Maha Mengetahui apa yang Terbaik Untukku.
Do’aku terjawab sudah.
———-Modified By : Syukuriah ———-
Akhi….
Jikalau tiba saatnya bersatu…
bersabarlah dikau dengan kekuranganku….
bersabarlah dikau dengan apa yang tampak sekilas….
sesungguhnya aku ini hanyalah seseorang anak adam yang
biasa-biasa saja….
yang biasa dipandang sebelah mata….
Akhi….
Jika Allah memang memilihku tuk mendampingimu….
Kumohon…Hendaklah dikau selalu mengingatkan diriku yang lemah ini….
Yang mungkin menelantarkan hak-hakmu….
Yang mungkin lupa diri dan tak tau diri….
Yang mungkin lupa akan kewajibanku ini….
Akhi…..
Jikalau memang bukan takdir kita untuk bersatu….
Doaku semoga Allah menyatukanmu dengan Akhwat pilihanmu
Dan yang terbaik menurutNya….
Yang akan membahagiakanmu di dunia dan menemanimu
Menuju kebahagiaan akhirat….
Akhi…..
Doakan juga semoga aku pun bisa menemukan seseorang
Seorang laki-laki yang terbaik MenurutNya
Yang kelak akan mendampingi hari-hariku
Dan Membimbingku menjadi lebih baik
Yang akan membahagiakanku di dunia dan menemaniku
Menuju kebahagiaan akhirat….
Akhi….
Terimalah salamku ini….
Jagalah dirimu dengan sebaik-baiknya….
Ingatlah…..Sesungguhnya Allah swt. bersama orang-orang yang sabar….
(Untuk Sahabat yang sedang Merevaluasi Hati)
Label: Kasih Tak Sampai, Kasih yang tertunda
Akhirnya ku melepaskanmu
Saat Hati ini mulai meletih
Akhirnya ku melepaskanmu
Saat Raga ini lelah berlabuh
Ku berharap diriku bisa
Melepaskan segala risau hatiku
Dengan membiarkan diriku merelakanmu
Demi kebahagiaan dan kebaikan bersama
Jika nanti kau sanding dirinya
Miliki dia dengan segala kelemahannya
Dan bila nanti diriku pun bersanding dengan yang lain
Jangan pernah letih tuk saling mendoakan
Akhirnya ku melepaskanmu
(Untuk Sahabat yang akan memulai Kisah baru)
A Story in May 2008 …
Maybe fictif …Maybe Real….
Alkisah di zaman serba modernisasi khususnya telekomunikasi…. Seorang guru Matematika di sebuah Sekolah di Pulau Khayalan memberikan pertanyaan kepada siswanya.
Diketahui : Jika ada Orang Kaya di Pulau SuMaTeRa melakukan panggilan telepon 3x @30 menit dalam sehari, sedangkan ada Orang Kaya di Pulau JaWa melakukan panggilan telepon 1x@30 menit dalam sehari. Orang Kaya di SuMaTeRa merasa dirinya lebih kaya daripada orang kaya di pulau JaWa, begitu juga sebaliknya orang kaya di pulau JaWa merasa dirinya lebih kaya daripada orang kaya di pulau SuMaTeRa.
Pertanyaan : Sesungguhnya Siapakah yang lebih kaya diantara kedua orang kaya tersebut??
Seluruh siswa menjadi tertegun dan bingung untuk menJaWab soal tersebut karena datanya msh kurang jelas. Tapi, anak yang terpintar di kelas tersebut langsung memotong dan buru2x menJaWab padahal soal pertanyaan belum selesai dibacakan. Siswa tsb sebut saja yaitu si A menunjuk tangannya dan menJaWab dengan yakin nya bahwa Orang kaya di Pulau SuMaTeRa lah yang lebih kaya dengan argument meyakinkan berdasarkan data sekilas tadi. Ibu guru pun menJaWab bahwa JaWaban tersebut Salah. Kemudian tak lama dan tak disangka ada seorang siswa yaitu si B menunjukkan tangannya dan mencoba menJaWab walau dengan tidak yakin dan ragu-ragu bahwa Orang kaya di Pulau JaWa lah yang lebih kaya, namun ketika ditanyakan alasannya dia tak mampu memberikan argument yang mampu mendukung JaWabannya.
Akhrnya seluruh siswa penasaran dan bertanya-tanya kenapa semua JaWaban salah. Demi menghilangkan rasa penasaran para siswanya akhirnya sang guru pun menJaWab dengan Bijaksana bahwa "Keduanya bisa jadi sama2 kaya tapi bisa jadi juga sama2 miskin". seluruh siswa tambah heran, ibu guru pun melanjutkan penjelasannya bhwa bukan karena data diatas namun pertanyaan tadi sebenarnya belum selesai karena yang sesungguhnya ibu tanyakan adalah : "Sesungguhnya Siapakah yang lebih kaya diantara kedua orang kaya tersebut?? Siapakah yang lebih Kaya (Hatinya)?"
Oleh karena Kekayaan bukan diukur dari banyaknya panggilan yang dilakukan ataupun jumlah pulsa yang dikeluarkan seseorang, ataupun ukuran materi lainnya, namun kekayaan yang hakiki adalah "kekayaan hati" yang dapat diverifikasi dari seberapa banyak "sifat baik dan buruk yang ada di dalam hati". Siapa yang dapat mengetahuinya? Tentu hanya pribadi masing2x lah yang mengetahui seberapa besar nilai Asset di Hatinya. Apakah mengalami Laba atau justru Rugi setiap harinya?? Jika akumulasi penyusutan "asset baik" di hatinya telah bertambah besar maka perlu direvaluasi ulang asset tsb? Perlukah seorang akuntan untuk membantu hal tsb? Ataukah harus menunggu hasil penyelidikan BPK dlm melaporkan "korupsi atau penyalahgunaan asset" yang terjadi?? Yang jelas di saat RUPS, maka PEMILIK SAHAM MUTLAK akan meminta pertanggungJaWaban atas asset-Nya….. oleh karena itu peliharalah asset yang berharga saja di dalam hati…..dan buang lah asset yang buruk dan dapat merusak asset berharga lainnya supaya kita tidak merugi dan mampu mempertanggungJaWabkannya….begitulah penjelasan bijaksana dari sang guru.
Suasana menjadi hening….Anak-anak pun terdiam…..dan tak berapa lama bunyi bel pulang terdengar. Ibu guru berpamitan dan mengakhiri pelajaran. Seluruh siswa pun akhirnya keluar dengan tertib sambil menghitung-hitung seberapa besar asset hatinya masing-masing….
~ The End ~
UNDANG-UNDANG DASAR Negara Republik Orang-orang Kaya (HATI) 2008 Pembukaan
Bahwa sesungguhnya "Merasa Kaya (HATI)" itu ialah hak setiap manusia dan oleh sebab itu, maka "kemiskinan (HATI) di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan untuk memperoleh kekayaan lahir dan bathin telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan Rakyat Orang-orang Kaya kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Republik Orang Kaya (NROK) yang diantaranya berjiwa optimis, pemaaf, husnudzhon, selalu ceria dan rajin sedekah minimal dengan senyum.
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang "makmur dan kaya lahir bathin", maka Rrakyat NROK menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara NROK yang melindungi segenap bangsa NROK dan seluruh tumpah darah NROK dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan kemakmuran serta keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan NROK itu dalam suatu Undang-undang Dasar NROK, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Orang-orang Kaya yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketauhidan hanya kepada ALLAH SWT, Kesamaan harkat dan martabat kecuali Taqwa nya, Penciptaan Ukhuwah Islamiyah, dan Penyelesaian setiap Masalah hidup berdasarkan al-qur’an dan hadits, serta Menjalani hidup dengan ikhtiar maksimal dan tawakkal.
Yang Mewakili Negara Republik Orang-orang Kaya, 1 Mei 2008
Shushee (Ketua Rakyat) – Laili (Wakil Ketua Rakyat)
Label: Hati, Kaya, Pembukaan, Preambule, Undang-undang
Sungguh sangat manusiawi,
Seseorang yang terbersit rasa rindu di hati,
Pada sesiapa yang terkasih.
Bukankah Allah menciptakan rasa itu tuk dijaga,
Bukan untuk dimatikan,
Ataupun dihilangkan,
Dan yang terpenting adalah keseimbangan.
Salah satu ciri seorang yang beriman adalah ketika disebut nama Allah
maka bergetarlah hatinya.
Bergetar karena takut akan azab-Nya,
Bergetar karena mengharap Ridho-Nya,
Dan bergetar karena rindu ingin berjumpa dengan-Nya.
Seseorang apabila nama yang dikasihi disebut didepannya,
dan ia tak merasakan getaran maka dipertanyakan kecintaan dan kerinduannya,
maka Allah menggambarkan dalam firman-Nya tuk hamba-hamba-Nya yang merindui-Nya: "… dan apabila disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya." (QS. Al-Anfal : 2).
Bayangkan…
hanya dengan disebut nama-Nya maka bergetar hatinya…
Bagaimana dengan hati ini?
Cintakah kita dengan-Nya?
Rindukah kita dengan-Nya?
Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangka hambaKU."
Bila hati ini rindu kepada-Nya, maka Ia akan rindu,
Bila hati ini ingin berjumpa dengan-Nya, maka Ia akanmengharapkan berjumpa,
Subhanallah, bahagia orang yang merasakan getaran ketika nama Allah disebut.
Jangan katakan kita cinta Rasul, kalau hati tidak bergetar ketika mendengar nama Rasul.
Jangan katakan kita merindukan Rasul kalau hati tak bergejolak ketika nama Rasul disebut.
Begitu juga ketika seseorang merindui seseorang yang dikasihi, ingin hati berjumpa, mendengar dan bicara dengannya. Walaupun satu kata yang terlontar dari orang yang dirindui, Itu kanmengobati rasa rindu.
Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan rasa rindu,
Setiap orang mempunyai rasa rindu,
seorang lelaki rindu seorang istri sholehah,
seorang wanita rindu seorang suami sholeh,
seorang yang beriman rindu akan kebenaran,
seorang yang bertakwa rindu berjumpa dengan Allah.
Ya Rabb, syukur aku telah kau anugerahkan dengan rindu.
Ya Rabb, jawablah rindu ini.
Ya Rabb, kumpulkan aku bersama orang yang merinduiMu…
Tuhan….
Saat aku mencintai seorang teman
Ingatkan aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir
Tuhan….
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukan aku kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi
Tuhan….
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukan aku dengan orang yang mencintai-Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu
Tuhan….
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Tuhan….
Ketika aku berucap, aku cinta padamu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu
Label: Cinta, Pencipta, Rindu, Surat Untuk Sang Maha Pencipta
Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi…
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…
Tapi Rabbii,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu…
Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu…
Aku makin merasakan gelisahku membadai…
Dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi…
Hingga aku terhempas dalam jurang
Dan kegelapan…
Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu…
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon dan mengibaMu:
Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii,
Izinkanlah aku mencintaiMu, Semampuku
Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu Sebisaku
Dengan segala kelemahanku
Ya Ilaahi, Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan kesabaran menanggung derita
Bagaikan Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa
Karena itu izinkan aku mencintaiMu
Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku
Rabbii,
Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga. Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad. Atau Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan. Ilaahi, aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang shahabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh terhunjam di kakinya. Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku menggapai cintaMu, dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata, meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.
Robbii,
aku tak dapat beribadah ala para sufi, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu. Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rakaat lailku. Dalam satu dua sunnah nafilahMu. Dalam desah napas kepasrahan tidurku. Yaa, Maha Rahmaan, Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah aku mencintaiMu, melalui selembar dua lembar tilawah harianku. Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.
Yaa Rahiim
Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu. Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu. Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwahMu. Allahu Kariim, aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya, dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya. Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya. Izinkan aku mencintaiMu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia dan alam semesta. Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii Izinkanlah aku mencintaiMu semampuku. Agar cinta itu mengalun dalam jiwa. Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.
Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi…
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…
Tapi Rabbii,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu…
Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu…
Aku makin merasakan gelisahku membadai…
Dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi…
Hingga aku terhempas dalam jurang
Dan kegelapan…
Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu…
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon dan mengibaMu:
Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii,
Izinkanlah aku mencintaiMu, Semampuku
Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu Sebisaku
Dengan segala kelemahanku
Ya Ilaahi, Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan kesabaran menanggung derita
Bagaikan Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa
Karena itu izinkan aku mencintaiMu
Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku
Rabbii,
Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga. Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad. Atau Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan. Ilaahi, aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang shahabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh terhunjam di kakinya. Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku menggapai cintaMu, dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata, meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.
Robbii,
aku tak dapat beribadah ala para sufi, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu. Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rakaat lailku. Dalam satu dua sunnah nafilahMu. Dalam desah napas kepasrahan tidurku. Yaa, Maha Rahmaan, Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah aku mencintaiMu, melalui selembar dua lembar tilawah harianku. Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.
Yaa Rahiim
Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu. Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu. Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwahMu. Allahu Kariim, aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya, dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya. Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya. Izinkan aku mencintaiMu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia dan alam semesta. Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii Izinkanlah aku mencintaiMu semampuku. Agar cinta itu mengalun dalam jiwa. Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.
Sahabat………..
Hidup memang merupakan sebuah perjuangan
Perjuangan untuk memilih
Menilih jalan hidup
Namun……….
Ketika hidup tak lagi dapat memilih
Kehidupan berlalu bagaikan tanpa makna
Sahabat……….
Hidup memang bagaikan panggung sandiwara
Sandiwara dengan banyak peran dan seribu macam kisah cerita
Kisah cerita yang tak akan pernah berakhir
Hingga ajal menjemput sang pemain
Sahabat………..
Apa yang harus kulakukan ?
Ketika aku merasa asing di jalan ini
Ketika aku merasa tak lagi mengenal daerah ini
Ketika aku merasa tak lagi dapat bertahan di sini
Ketika aku merasa tak lagi tenteram tinggal di sini
Sahabat……….
Haruskah aku tetap di sini ?
Haruskah aku bertahan di sini ?
Haruskah aku berpura-pura ?
Haruskah aku menipu kalian semua ?
Haruskah aku menipu diriku ?
Haruskah aku……….
Sahabat……….
Aku sadar bahwa semuanya telah berubah
Hidup memang selalu dan akan terus berubah
Mungkin aku pun telah berubah
Bahkan terkadang aku pun merasa asing dengan diriku
Namun……….
Beginilah diriku adanya saat ini
Inilah kenyataan yang harus aku dan kau terima
Kenyataan yang tidak dapat aku menyangkalnya
Sahabat……….
Salahkah aku jika tak lagi dapat berada di sini ?
Salahkah aku jika tak lagi dapat bertahan di sini ?
Salahkah aku jika memilih jalan yang berbeda denganmu ?
Salahkah aku yang tak dapat menjadi sepertimu ataupun mereka yang berada di jalan ini ?
Salahkah aku dengan segala keterbatasanku ini ?
Salahkah aku dengan perasaan ini ?
Salahkah aku dengan keputusan ini ?
Salahkah aku……….
Sahabat……….
Izinkan aku untuk memilih jalan hidupku
Jalan yang aku mampu untuk menjalaninya
Izinkan aku untuk memilih peranku
Peran yang aku sanggup memainkannya sampai akhir
Sahabat……….
Aku menyadari semua kekurangan dan keterbatasanku
Aku tahu aku takkan pernah bisa menjadi sepertimu
Karena Aku adalah aku dengan segala kelemahanku
Itu adalah kenyataannya
Sahabat……….
Aku hanya tak ingin lebih lama berada dalam keresahan ini
Aku lelah bila harus terus merasakan kegelisahan ini
Aku letih bila harus terus tertatih di jalan ini
Aku sakit bila harus terus terjatuh di jalan ini
Aku tak sanggup bila harus terus memainkan peran ini
Peran yang berada di luar kemampuanku
Sahabat……….
Mungkin aku terlalu egois, aku akui hal itu
Mungkin aku terlalu pesimis, aku pun menyadarinya
Mungkin aku terlalu lemah, aku pun tak dapat menyangkalnya
Mungkin terlalu banyak kekuranganku, aku pun meyakini hal ini
Sahabat……….
Aku memang tidak sepertimu
Yang selalu mempunyai semangat tinggi untuk berjuang di jalan-Nya
Yang selalu optimis akan sebuah keberhasilan
Yang selalu perduli untuk memperbaiki orang lain
Sahabat……….
Mungkin aku memang terlalu lemah untuk berjalan di jalan ini
Mungkin aku memang terlalu pesimis akan sebuah keberhasilan
Mungkin aku memang terlalu acuh untuk memikirkan orang lain
Namun itulah diriku
itulah kenyataan yang aku pun tidak dapat menyangkalnya
Sahabat……….
Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa datang
Namun……….
Percayalah padaku
Selama nafas ini masih berhembus
Aku akan terus berusaha untuk memperbaiki diriku
Sahabat……….
Do’a darimu senantiasa kuharapkan
Dukunganmu tetap kunantikan
Dan nasihatmu selalu kurindukan
Demi perbaikan diri ini
Sahabat……….
Mungkin aku memang bukan sahabat yang baik bagimu
Aku memang terlalu jauh bila dibandingkan denganmu
Namun……….
Aku bersyukur karena kau telah menjadi sahabatku
Sahabat yang baik bagiku
Sahabat……….
Aku hanyalah manusia biasa
Dengan segala keterbatasanku
Mungkin aku salah dengan keputusan ini
Namun……….
Aku harap kau mengerti
Mengerti akan keputusan ini
Sahabat……….
Walau kita tak lagi sejalan
Hanya satu yang kupinta darimu
Izinkan aku tetap bersahabat denganmu
Dan Tetaplah menjadi sahabat baikku
Dengan tetap mendo’akanku, tetap mendukungku dan tetap menasihatiku
Sahabat……….
Ikatan ukhuwah terlalu indah
Untuk dihancurkan oleh hal seperti ini
Tali persahabatan terlalu kokoh
Untuk diputuskan oleh hal seperti ini
Rasa kebersamaan terlalu kuat
Untuk dihempaskan oleh hal seperti ini
Sebuah persaudaraan terlalu suci
Untuk dinodai oleh hal seperti ini
Sahabat……….
Adakah kau dengar rintihanku ini ?
Maafkan aku……….
Maafkan aku……….
Maafkan aku……….
Tuhanku……….
Kabulkanlah do’a hambamu ini
Ampunilah hambamu ini………..
Ampunilah hambamu ini………..
Ampunilah hambamu ini………..
Izinkanlah kami untuk bertemu di surga-Mu kelak
Amin………..
Nur Fariza El-Islamassya
Label: Perpisahan, Sahabat
Kasih Ibu Kepada Beta
Tak Terhingga Sepanjang Masa
Hanya Memberi Tak Harap Kembali
Bagai Sang Surya Menyinari Dunia
Ya…itulah lagu yg sering diajarkan kepada kita ketika masih anak2 ketika masih di TK betapa lagu ini amat terkenal di kalangan anak-anak. Mungkin ketika masih kecil kita hanya sekedar nyanyi-nyanyi saja, namun jika kita nyanyikan lagu ini ketika sudah dewasa….subhanallah alangkah besar sekali maknanya. Maka tak heran lah kita jika allah meletakkan surga itu di bawah telapak kaki ibu.
Ibu….tak terasa usiamu kini telah memasuki setengah abad…tak terasa pula wajahmu kian menua, keriputmu mulai terlihat…aku yg sudah hidup denganmu selama hampir ¼ abad ini mgkn belum bisa membahagiakanmu, aku hanya bisa merepotkanmu dari sejak lahir hingga sekarang. Ibu…kau memang satu-satunya anugerah terindah yg pernah kumiliki yaitu memiliki seorang ibu yg seperti engkau karena aku tau amat sedikit wanita yg sepertimu.
Ibu…engkau seorang wanita yg hampir sempurna dan mgkn tipe wanita idaman para pria. Ibu…..engkau sangat penyabar, ramah, tidak egois, penyayang, pengertian, pekerja keras, rajin bekerja, penuh dengan ide-ide, dan lain-lain, yang pasti engkau tipe wanita sholihah menurutku. Ketika anak2 mu melakukan kesalahan, engkau menegurnya dg halus tanpa memarahi dan membentaknya. Ketika semua anggota keluarga sibuk beraktivitas dan engkau tinggal di rumah sendiri, engkau pun tak tinggal diam, engkau membereskan rumah dan menyiapkan masakan untuk menyambut kami semua ketika pulang, walaupun engkau bukan wanita karier namun engkau tak pernah bisa diam untuk beraktivitas walau hanya sekedar melakukan kegiatan-kegiatan kecil di dalam rumah. Jam kerjamu bahkan lebih banyak disbanding jam kantoran, karena ketika semua pulang ke rumah setelah lelah beraktivitas kami langsung beristirahat, sedangkan engkau justru masih harus mengurusi kami sehingga waktu istirahatmu pun tak ada. Engkau tidur paling akhir namun bangun paling awal. Ketika engkau sakit barulah semua terasa tidak lancar karena semua hanya bisa mengandalkanmu. Ketika semua sedang terlelap tidur, engkau justru terbangun di tengah malam untuk bermunajat kepada-Nya, memohon ampun dan berdoa agar kita sekeluarga selalu berada dalam lindungan-Nya. Shalat lail, shaum sunah, tilawah qur’an dan baca-baca buku sudah menjadi kebiasaanmu yang rutin disela-sela kegiatan mu lainnya.
Ibu…hal-hal kecil seperti ini sering kulihat dan masih kuingat ……Ketika kami semua makan nasi hangat, engkau malah makan nasi yg sudah dingin dan keras, mungkin engkau tak ingin membuangnya karena mubazir. Ketika kami semua makan makanan yg enak yang telah engkau sediakan namun engkau malah makan dg ikan asin. Ketika kami semua tertidur engkau pun selalu menyelimuti kami, memasang obat nyamuk dan mengusir nyamuk-nyamuk yang hinggap di tubuh kami. Ketika atap bocor, engkau pula yg naik untuk memperbaikinya dan engkaupun mampu mengerjakan beberapa pekerjaan yg biasanya dilakukan oleh laki-laki.
Ibu….betapa jasamu amat sangat besar dan takkan pernah mampu ku balas dg apapun juga. Kini, di saat usiamu yg semakin menua, dan seharusnya engkau layak untuk beristirahat dari pekerjaan-pekerjaan rumah dan berat namun engkau masih disibukkan dengan hal-hal tersebut. Anak-anakmu semua sibuk beraktivitas masing-masing. Bahkan engkau pun masih harus disibukkan dengan tanggung jawab mengurus cucu yg dititipkan anakmu kepadamu. Engkau harus merawatnya dan memperhatikan kebutuhannya, layaknya seorang ibu yang baru memiliki anak kecil yang tentu cukup menyita waktu dan menambah kerepotan. Hingga tak salah memang jika cucumu lebih akrab dan dekat denganmu daripada ibunya sendiri. Engkau selalu tersenyum walaupun ku tau sesungguhnya engkau juga letih. Engkau menjalani semua itu dg setulus hati dan tak pernah mengeluh kepada siapapun. Mungkin engkau hanya mengeluh dan berkeluh kesah kepada-Nya. Engkau tak banyak bicara namun banyak bertindak. Engkau tak sering menasehati namun engkau menunjukkannya dengan keteladanan mu.
Ibu……hanya satu kekuranganmu……yaitu justru karena semua sifat-sifat baikmu itu… yang terlalu baik bahkan menurutku….ternyata tidak dan belum berhasil membuat anak-anak mu ini sadar…..atau mungkin anak-anakmu saja yang tidak mau mengerti dan memahami keinginanmu….mungkin anak-anakmu merasa dibiarkan….merasa terpedaya dengan kebaikannmu…..yang pasti memang salah anak-anakmu yang tak pernah mau berubah menjadi lebih baik dan meniru keteladan-keteladananmu yang sudah jelas-jelas terlihat di depan mata. Engkaupun tahu bahwa anak-anakmu ini sudah besar yang tidak perlu lagi dimarahi atau dipaksa untuk berbuat baik, hanya tinggal bagaimana anak-anakmu menyadari hal ini. Tetaplah mendoakan kami bu……..
Ibu……maafkan kami anak-anakmu ini yang sering merepotkanmu
Ibu……jangan pernah bosan untuk mendoakan kami
Ibu……jangan pernah berhenti untuk memberikan keteladanan kepada kami
Ibu……jangan pernah letih untuk menyadarkan kami agar menjadi lebih baik
Ibu……tetaplah tersenyum untuk kami
Ibu……bisakah aku menjadi sepertimu?????
Berani hidup harus berani dewasa. Hidup ini memang tidak mudah, tetapi alangkah tidak mudahnya hidup tanpa keberanian menjadi dewasa. Bahwa fase demi fase dalam kehidupan merupakan sebuah kepastian. Setiap usia memiliki jenjangnya masing-masing, memiliki situasi yang berbeda, terkadang sulit dan terkadang juga mudah. Tapi keberanian menjadi dewasa adalah keniscayaan yang dengannya lah maka kita akan dapat melalui segala fase-fase itu.
Berani dewasa adalah pilihan hidup yang tidak sederhana. Ini bukanlah semata soal bertambahnya usia. Tapi berani dewasa adalah keputusan akan sikap, sudut pandang, pemikiran dan tindakan yang benar-benar didasarkan kepada kesadaran penuh. Kuncinya terletak pada kematangan, kekuatan pijakan, tujuan akhir yang seterang matahari di puncak siang. Tentu saja ruh dasar dan fundamentalnya jelas-jelas iman. Tetapi proses berani dewasa adalah situasi demi situasi yang kita bangun dari rangkaian sikap demi sikap.Yang kita pupuk dengan ketulusan demi ketulusan. Yang kita rajut dari tabungan demi tabungan hikmah dan renungan jiwa kita. Oleh karenanya sekali lagi berani dewasa adalah sebuah keputusan jiwa yang sangat tidak sederhana dan bahkan mungkin sulit sebab ia seringkali berada dalam situasi lahiriyah yang sangat kontras.
Berani menjadi dewasa adalah suatu pilihan. Sesulit apapun situasinya, kita harus tetap dapat mengajak diri kita untuk meraih tahap kedewasaan itu. Mencapai fase kedewasaan akan amat sangat bermakna bagi kita. Maka, semestinya kita berani menggapai fase kedewasaan itu, yang tidak hanya dinilai dari faktor usia semata, namun kemampuan kita untuk mengkaji segalanya dari kacamata semestinya. Kacamata manusia yang berusaha mencapai kematangan pola pikir dan rasa.
Latihlah diri untuk menjadi dewasa selagi belum terlambat dan umur masih ada karena kedewasaan adalah sebuah keniscayaan hidup yang mesti ada pada setiap insan……
(Dikutip dari Tarbawi dg penambahan seperlunya)
Label: kedewasaan diri, kematangan pola fikir
Assalamu'alaikum Wr.Wb