Ibu
Kasih Ibu Kepada Beta
Tak Terhingga Sepanjang Masa
Hanya Memberi Tak Harap Kembali
Bagai Sang Surya Menyinari Dunia
Ya…itulah lagu yg sering diajarkan kepada kita ketika masih anak2 ketika masih di TK betapa lagu ini amat terkenal di kalangan anak-anak. Mungkin ketika masih kecil kita hanya sekedar nyanyi-nyanyi saja, namun jika kita nyanyikan lagu ini ketika sudah dewasa….subhanallah alangkah besar sekali maknanya. Maka tak heran lah kita jika allah meletakkan surga itu di bawah telapak kaki ibu.
Ibu….tak terasa usiamu kini telah memasuki setengah abad…tak terasa pula wajahmu kian menua, keriputmu mulai terlihat…aku yg sudah hidup denganmu selama hampir ¼ abad ini mgkn belum bisa membahagiakanmu, aku hanya bisa merepotkanmu dari sejak lahir hingga sekarang. Ibu…kau memang satu-satunya anugerah terindah yg pernah kumiliki yaitu memiliki seorang ibu yg seperti engkau karena aku tau amat sedikit wanita yg sepertimu.
Ibu…engkau seorang wanita yg hampir sempurna dan mgkn tipe wanita idaman para pria. Ibu…..engkau sangat penyabar, ramah, tidak egois, penyayang, pengertian, pekerja keras, rajin bekerja, penuh dengan ide-ide, dan lain-lain, yang pasti engkau tipe wanita sholihah menurutku. Ketika anak2 mu melakukan kesalahan, engkau menegurnya dg halus tanpa memarahi dan membentaknya. Ketika semua anggota keluarga sibuk beraktivitas dan engkau tinggal di rumah sendiri, engkau pun tak tinggal diam, engkau membereskan rumah dan menyiapkan masakan untuk menyambut kami semua ketika pulang, walaupun engkau bukan wanita karier namun engkau tak pernah bisa diam untuk beraktivitas walau hanya sekedar melakukan kegiatan-kegiatan kecil di dalam rumah. Jam kerjamu bahkan lebih banyak disbanding jam kantoran, karena ketika semua pulang ke rumah setelah lelah beraktivitas kami langsung beristirahat, sedangkan engkau justru masih harus mengurusi kami sehingga waktu istirahatmu pun tak ada. Engkau tidur paling akhir namun bangun paling awal. Ketika engkau sakit barulah semua terasa tidak lancar karena semua hanya bisa mengandalkanmu. Ketika semua sedang terlelap tidur, engkau justru terbangun di tengah malam untuk bermunajat kepada-Nya, memohon ampun dan berdoa agar kita sekeluarga selalu berada dalam lindungan-Nya. Shalat lail, shaum sunah, tilawah qur’an dan baca-baca buku sudah menjadi kebiasaanmu yang rutin disela-sela kegiatan mu lainnya.
Ibu…hal-hal kecil seperti ini sering kulihat dan masih kuingat ……Ketika kami semua makan nasi hangat, engkau malah makan nasi yg sudah dingin dan keras, mungkin engkau tak ingin membuangnya karena mubazir. Ketika kami semua makan makanan yg enak yang telah engkau sediakan namun engkau malah makan dg ikan asin. Ketika kami semua tertidur engkau pun selalu menyelimuti kami, memasang obat nyamuk dan mengusir nyamuk-nyamuk yang hinggap di tubuh kami. Ketika atap bocor, engkau pula yg naik untuk memperbaikinya dan engkaupun mampu mengerjakan beberapa pekerjaan yg biasanya dilakukan oleh laki-laki.
Ibu….betapa jasamu amat sangat besar dan takkan pernah mampu ku balas dg apapun juga. Kini, di saat usiamu yg semakin menua, dan seharusnya engkau layak untuk beristirahat dari pekerjaan-pekerjaan rumah dan berat namun engkau masih disibukkan dengan hal-hal tersebut. Anak-anakmu semua sibuk beraktivitas masing-masing. Bahkan engkau pun masih harus disibukkan dengan tanggung jawab mengurus cucu yg dititipkan anakmu kepadamu. Engkau harus merawatnya dan memperhatikan kebutuhannya, layaknya seorang ibu yang baru memiliki anak kecil yang tentu cukup menyita waktu dan menambah kerepotan. Hingga tak salah memang jika cucumu lebih akrab dan dekat denganmu daripada ibunya sendiri. Engkau selalu tersenyum walaupun ku tau sesungguhnya engkau juga letih. Engkau menjalani semua itu dg setulus hati dan tak pernah mengeluh kepada siapapun. Mungkin engkau hanya mengeluh dan berkeluh kesah kepada-Nya. Engkau tak banyak bicara namun banyak bertindak. Engkau tak sering menasehati namun engkau menunjukkannya dengan keteladanan mu.
Ibu……hanya satu kekuranganmu……yaitu justru karena semua sifat-sifat baikmu itu… yang terlalu baik bahkan menurutku….ternyata tidak dan belum berhasil membuat anak-anak mu ini sadar…..atau mungkin anak-anakmu saja yang tidak mau mengerti dan memahami keinginanmu….mungkin anak-anakmu merasa dibiarkan….merasa terpedaya dengan kebaikannmu…..yang pasti memang salah anak-anakmu yang tak pernah mau berubah menjadi lebih baik dan meniru keteladan-keteladananmu yang sudah jelas-jelas terlihat di depan mata. Engkaupun tahu bahwa anak-anakmu ini sudah besar yang tidak perlu lagi dimarahi atau dipaksa untuk berbuat baik, hanya tinggal bagaimana anak-anakmu menyadari hal ini. Tetaplah mendoakan kami bu……..
Ibu……maafkan kami anak-anakmu ini yang sering merepotkanmu
Ibu……jangan pernah bosan untuk mendoakan kami
Ibu……jangan pernah berhenti untuk memberikan keteladanan kepada kami
Ibu……jangan pernah letih untuk menyadarkan kami agar menjadi lebih baik
Ibu……tetaplah tersenyum untuk kami
Ibu……bisakah aku menjadi sepertimu?????

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda