Jumat, 19 Juni 2009

A Short Story

A Story in May 2008 …

Maybe fictif …Maybe Real….

Alkisah di zaman serba modernisasi khususnya telekomunikasi…. Seorang guru Matematika di sebuah Sekolah di Pulau Khayalan memberikan pertanyaan kepada siswanya.

Diketahui : Jika ada Orang Kaya di Pulau SuMaTeRa melakukan panggilan telepon 3x @30 menit dalam sehari, sedangkan ada Orang Kaya di Pulau JaWa melakukan panggilan telepon 1x@30 menit dalam sehari. Orang Kaya di SuMaTeRa merasa dirinya lebih kaya daripada orang kaya di pulau JaWa, begitu juga sebaliknya orang kaya di pulau JaWa merasa dirinya lebih kaya daripada orang kaya di pulau SuMaTeRa.

Pertanyaan : Sesungguhnya Siapakah yang lebih kaya diantara kedua orang kaya tersebut??

Seluruh siswa menjadi tertegun dan bingung untuk menJaWab soal tersebut karena datanya msh kurang jelas. Tapi, anak yang terpintar di kelas tersebut langsung memotong dan buru2x menJaWab padahal soal pertanyaan belum selesai dibacakan. Siswa tsb sebut saja yaitu si A menunjuk tangannya dan menJaWab dengan yakin nya bahwa Orang kaya di Pulau SuMaTeRa lah yang lebih kaya dengan argument meyakinkan berdasarkan data sekilas tadi. Ibu guru pun menJaWab bahwa JaWaban tersebut Salah. Kemudian tak lama dan tak disangka ada seorang siswa yaitu si B menunjukkan tangannya dan mencoba menJaWab walau dengan tidak yakin dan ragu-ragu bahwa Orang kaya di Pulau JaWa lah yang lebih kaya, namun ketika ditanyakan alasannya dia tak mampu memberikan argument yang mampu mendukung JaWabannya.

Akhrnya seluruh siswa penasaran dan bertanya-tanya kenapa semua JaWaban salah. Demi menghilangkan rasa penasaran para siswanya akhirnya sang guru pun menJaWab dengan Bijaksana bahwa "Keduanya bisa jadi sama2 kaya tapi bisa jadi juga sama2 miskin". seluruh siswa tambah heran, ibu guru pun melanjutkan penjelasannya bhwa bukan karena data diatas namun pertanyaan tadi sebenarnya belum selesai karena yang sesungguhnya ibu tanyakan adalah : "Sesungguhnya Siapakah yang lebih kaya diantara kedua orang kaya tersebut?? Siapakah yang lebih Kaya (Hatinya)?"

Oleh karena Kekayaan bukan diukur dari banyaknya panggilan yang dilakukan ataupun jumlah pulsa yang dikeluarkan seseorang, ataupun ukuran materi lainnya, namun kekayaan yang hakiki adalah "kekayaan hati" yang dapat diverifikasi dari seberapa banyak "sifat baik dan buruk yang ada di dalam hati". Siapa yang dapat mengetahuinya? Tentu hanya pribadi masing2x lah yang mengetahui seberapa besar nilai Asset di Hatinya. Apakah mengalami Laba atau justru Rugi setiap harinya?? Jika akumulasi penyusutan "asset baik" di hatinya telah bertambah besar maka perlu direvaluasi ulang asset tsb? Perlukah seorang akuntan untuk membantu hal tsb? Ataukah harus menunggu hasil penyelidikan BPK dlm melaporkan "korupsi atau penyalahgunaan asset" yang terjadi?? Yang jelas di saat RUPS, maka PEMILIK SAHAM MUTLAK akan meminta pertanggungJaWaban atas asset-Nya….. oleh karena itu peliharalah asset yang berharga saja di dalam hati…..dan buang lah asset yang buruk dan dapat merusak asset berharga lainnya supaya kita tidak merugi dan mampu mempertanggungJaWabkannya….begitulah penjelasan bijaksana dari sang guru.

Suasana menjadi hening….Anak-anak pun terdiam…..dan tak berapa lama bunyi bel pulang terdengar. Ibu guru berpamitan dan mengakhiri pelajaran. Seluruh siswa pun akhirnya keluar dengan tertib sambil menghitung-hitung seberapa besar asset hatinya masing-masing….

~ The End ~

Label: , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda